sejarah velvet revolver
Untuk
sementara ketiganya menamakan diri The Project sebelum mendapatkan
vokalis dan ritem gitar untuk mengisi potongan puzzle yang masih kosong.
Dalam waktu singkat The Project telah mendapatkan seorang personil di
posisi ritem gitar, namanya Dave Kushner mantan gitaris di grup solo
Duff McKagan, Loaded dan juga mantan gitaris Dave Navarro’s Band dan
Wasted Youth.
Dengan
label yang kurang mentereng di mata publik musik rock, jelas saja Dave
diragukan dapat bersanding dengan tokoh gitar papan atas, si
legendaris Slash. Apalagi dirinya datang untuk mengisi pos Izzy
Stradlin, eks pasangan Slash di Gn’R yang sempat pula berlatih dan
membuat lagu bersama The Project. Izzy yang tidak lagi berhasrat untuk
beraksi di atas gemerlap panggung Rock n’ Roll memilih mundur ketika
band mulai membicarakan kemungkinan menarik seorang vokalis.
Ia
sedikit trauma dengan keberadaan vokalis, mengingat pengalaman
buruknya saat bersama Axl Rose di Gn’R. Alih-alih memberi kepercayaan
kepada Dave Kushner, publik justru mengharapkan datangnya seorang Gilby
Clarke, eks gitaris Gn’R lainnya, untuk berduet dengan Slash. Namun
harapan berlebihan terhadap seorang gitaris buru-buru diklarifikasi
Duff dengan mengatakan bahwa Dave adalah ’senjata rahasia’ mereka yang
pastinya tidak akan mengecewakan publik. Sejurus kemudian Dave Kushner
pun resmi mengisi pos gitaris kedua atau ritem gitar di New Most
Dangerous Band In The World itu.
Saat
personel di bagian ’instrumen’ sudah lengkap, band tinggal mencari
seorang frontman yang pastinya jauh lebih sulit daripada mencari ritem
gitar. Apalagi publik sudah kadung melihat Axl Rose sebagai pasangan
sejati Slash di Gn’R, sama halnya seperti Jagger-Richard (Rolling
Stones) atau Tyler-Perry (Aerosmith). Siapa dia yang lebih cocok berada
di samping Slash selain Axl? Sebagai musisi yang telah mempunyai nama
besar sebelumnya, tentu saja segala kegiatan The Project terus diawasi
publik. Segala keputusan akan menjadi pujian jika memuaskan publik,
namun sebaliknya akan menjadi cacian jika salah langkah.
Akhirnya
The Project memutuskan mengadakan audisi demi mencari yang terbaik
untuk berdiri di barisan depan panggung rock bersama mereka. Diluar
dugaan, audisi yang melibatkan vokalis-vokalis top tidak menjamin
datangnya individu yang tepat untuk mengisi pos yang kosong itu.
Nama-nama top seperti Michael Matijevic (Steelheart), Sebastian Bach
(Skid Row), Travis Meeks (Days Of The News), Kelly Shaefer (Neurotica),
Josh Todd (Buckcherry), A. Jay Popoff (Lit), Todd Kerns (The Age Of
Electric), Mike Patton (Faith No More), bahkan istri mendiang Kurt
Cobain, Courtney Love (The Hole) adalah mereka yang tersingkir dari
audisi yang diadakan The Project.
Mereka
semua bukannya tidak berkualitas, namun bukan hal yang mudah menemukan
vokalis yang cocok dengan konsep musik band ini. Bingung, Duff McKagan
memutuskan untuk berkonsultasi dengan teman lamanya, vokalis Stone
Temple Pilots bernama Scott Weiland yang saat itu sedang berurusan
dengan pengadilan karena tertangkap basah sedang mengemudi dalam
keadaan mabuk.
Scott Weiland, Reinkarnasi Axl Rose?
Kepada Scott, Duff berkonsultasi tentang konsep musik band barunya dan meminta masukan tentang vokalis yang cocok bergabung dengan mereka. Duff menginginkan vokalis berkarakter dan kharismatik, yang terpenting sang vokalis haruslah memiliki jiwa Rock n’ Roll demi menjiwai lagu yang akan mereka bawakan. Tentu saja Duff sudah memiliki standar tinggi karena tipe seperti Axl Rose, vokalis yang pernah bertahun-tahun bersamanya di Gn’R, adalah contoh kuat vokalis yang akan direkrutnya.
Kepada Scott, Duff berkonsultasi tentang konsep musik band barunya dan meminta masukan tentang vokalis yang cocok bergabung dengan mereka. Duff menginginkan vokalis berkarakter dan kharismatik, yang terpenting sang vokalis haruslah memiliki jiwa Rock n’ Roll demi menjiwai lagu yang akan mereka bawakan. Tentu saja Duff sudah memiliki standar tinggi karena tipe seperti Axl Rose, vokalis yang pernah bertahun-tahun bersamanya di Gn’R, adalah contoh kuat vokalis yang akan direkrutnya.
Meski
demikian, Duff juga tidak menutup mata bahwa tipe suara ’tinggi
melengking’ sudah tidak relevan dengan perkembangan jaman, oleh
karenanya ia menginginkan vokalis bertipe Grunge seperti Eddie Vedder
(Pearl Jam). Saat itu tidak terpikirkan untuk mengajak Scott Weiland,
karena yang bersangkutan masih terlibat aktif dalam tur STP. Duff hampir
saja merekrut Mike Patton, saat Mary, istri Scott Weiland, menelponnya
dan mengatakan suaminya sedang dalam keadaan tertekan karena
bermasalah dengan polisi dan narkotika, sementara anggota STP lainnya
membentuk grup baru bernama Talk Show bersama vokalis lain.
Merasa
harus membantu, Duff menghadiri sidang Scott dan tanpa basa-basi
mengajaknya bergabung untuk melengkapi sepotong puzzle yang masih
tersisa. Tidak ada audisi untuk vokalis sehebat ini, pikir Duff.
Setelah urusan Scott dengan pengadilan selesai, ia segera pergi ke
studio The Project untuk merekam single pertama yang menjadi soundtrack
film The Hulk, Set Me Free. Disaat yang bersamaan, nama The Project
secara resmi berubah menjadi Velvet Revolver yang merupakan nama
pemberian dari Scott Weiland.
Scott
yang memang fans berat Gn’R merupakan anugerah terbaik yang diberikan
Tuhan kepada VR. Sebagai vokalis multi talented, kemampuannya
menjelajah berbagai nada mulai dari tinggi hingga rendah, serak dan
melengking, bahkan suara wanita dan anak-anak, membuat VR memiliki
nilai plus di mata kritisi musik Amerika saat itu. Kapasitas Scott
dibuktikannya dengan menjadi guru vokal Fred Durst, vokalis Limp
Bizkit. Melihat Scott, dengan segala aksi dan kontroversinya di dalam
dan diluar panggung (ditambah tampang tengilnya), benar-benar
mengingatkan orang akan sosok Axl Rose.
Bahkan
polling internet mengenai pria ter-badung di dunia musik menempatkan
Axl Rose di posisi kedua (dibawah Eminem) dan Scott Weiland di posisi
ketiga. Tidak ada yang lebih Rock n’ Roll dibanding Scott, dan dialah
reinkarnasi sebenarnya dari Axl Rose!
Album :
Perekrutan
Scott Weiland sendiri bukannya tanpa resiko. Di masa-masa awal
karirnya dengan VR, Scott mesti bolak-balik pengadilan dan panti
rehabilitasi untuk menyelesaikan urusan pribadinya berkaitan dengan
narkotika. Scott mengakui, teman-teman barunya di VR (dengan latar
belakang sesama pecandu narkotika) benar-benar melindungi dan mengayomi
dirinya agar meninggalkan dunia gelap itu selama-lamanya. Untuk
meninggalkan itu semua dibutuhkan kegiatan positif yang membuat Scott
melupakan keinginannya meracuni diri dengan narkotika. Dan kegiatan itu
bukan hal yang sulit dicari, karena saat itu VR sedang sibuk
mengerjakan album perdana mereka yang diberi titel Contraband (2004).
Album
perdana ini (terlepas dari segala kekurangannya) benar-benar
menampilkan skill tinggi dari para personelnya. Vokal brilian Scott
mendominasi track pertama berjudul Sucker Train Blues. Sementara di
bagian melodi, Slash sedikit meninggalkan sound bulat seperti ciri
khasnya selama ini. Gantinya, sound yang lebih modern mulai berani
ditampilkan dengan jelajah nada Pentatonic Scale yang (seperti biasa)
membuat siapapun mengetahui siapa pemainnya hanya dengan
mendengarkannya.
Di
album ini pula sound bass Duff McKagan yang biasanya kering, kini
terdengar lebih kaku dan berat. Pukulan Matt Sorum yang semasa di Gn’R
terdengar ’kuli’ dan pecah, kali ini lebih lembut dan kalem namun
dengan variasi ketukan yang lebih kreatif. Sedangkan si ’anak bawang’
Dave Kushner, menunjukan blocking halus dengan sound tipis dan muram
untuk memberikan keleluasaan bagi Slash dalam memainkan berbagai
variasi melodi.
Bagi
penikmat Gn’R sebaiknya jangan terlalu berharap akan mendengarkan
ramuan seperti di album Illusion atau Appetite, karena Contraband
bukanlah refleksi dari Gn’R. Album ini memilki aroma Grunge yang khas
meskipun terdapat pula bau Hardrock dan Heavy metal, bahkan punk dalam
lagu-lagu mereka. Meskipun diwakili satu personel, unsur STP sangat
terasa dalam karya balada VR. You Got No Right dan Loving The Alien
tidak akan terdengar asing bagi penggemar STP. Untungnya, hits Fall To
Pieces berhasil mengobati kerinduan fans Gn’R akibat intro dan melodi
khas Slash yang sangat Gn’R.
Album
ini juga menjadi saksi akan lahirnya sebuah super hits yang dipercaya
akan menandingi lagu legendaris Gn’R, Paradise City. Lagu itu berjudul
Slither. Dibuka oleh duet Matt Sorum dan Duff Mckagan, Slash dan Dave
Kushner menyusul dengan permainan tempo tinggi. Sepintas kita seperti
mendengar Chris Cornell menyanyi di bagian awal, namun reff mendayu
menampilkan vokal Scott Weiland yang sangat khas.
Sama
halnya seperti Paradise City di Gn’R, lagu Slither kerap dijadikan
encore alias lagu penutup konser-konser VR. Dapat ditebak, debut album
Contraband berhasil menempati chart tertinggi di Billboard bahkan
double platinum! Inilah kreasi VR yang sesungguhnya, dan mereka belum
selesai.
Kesuksesan
Contraband membuat tim bersemangat untuk mengerjakan materi album
kedua. Tahun 2007, secara resmi album berjudul Libertad diluncurkan ke
pasaran. Album ini menampilkan produser Brendan O’ Brien, yang
menggantikan Josh Abraham. Sebelum Libertad keluar, sebuah single rancak
berjudul Come On Come In diluncurkan untuk mengisi soundtrack film
Fantastic Four.
Secara
umum, ramuan Grunge, Hardrock, Heavy Metal, dan Punk masih terasa dari
lagu-lagu yang ditampilkan. Hits Let It Roll sangat cocok dijadikan
tembang pembuka karena menampilkan karakter asli VR, cepat dan
bertenaga. Karakteristik sound dan skill para personel mengalami
peningkatan, terlebih vokal Scott Weiland yang makin unik dan
’nyeleneh’. Terlepas dari hobinya memanfaatkan efek vokal, kejeniusannya
seperti mendapat tempat di album ini.
Suara
anak kecil di lagu Can’t Get Out Of My Head dan suara mirip Marylin
Manson di lagu Get Out The Door membuat album ini makin bervariasi.
Lagu Spay menampilkan teriakan Scott yang semakin matang. Album ini
juga menampilkan hits seperti She Build Quick Machine, Last Fight dan
Gravedancer. Lirik yang diciptakan Scott benar-benar personal dan
mendalam, itu dibuktikannya dengan membuat judul yang sesuai dengan nama
istrinya, Mary Mary. Album ini ditutup dengan sebuah secret song
bernuansa country. Walaupun tidak sesukses album perdana, Libertad
berhasil menempatkan diri di posisi 5 Billboard UK.
Kasus Glasgow :
Kepadatan
jadwal tur dan kesibukan masing-masing personel membuat pertemuan
mereka tidak lagi sesering sebelumnya. Slash justru menjadi konsultan
bagi Axl Rose yang sedang kebingungan membangun kembali GN’R. Ia dan
Duff McKagan bahkan diundang untuk manggung di acara yang diadakan oleh
mantan drumer pertama Gn’R, Steven Adler, yang juga turut mengundang
Izzy Stradlin dan Axl Rose.
Acara
inilah yang menimbulkan gosip bahwa Gn’R akan reuni., namun Slash
menampik dengan mengatakan bahwa dirinya dan Duff sedang berkonsentrasi
untuk album ketiga VR. Kesuksesan dua album awal membuat publik
menantikan hadirnya album yang lebih ’ganas’ daripada album sebelumnya.
Ekspatasi publik begitu tinggi terhadap VR, karena sebagai sebuah
supergrup, VR dapat menunjukan bahwa Rock n’ Roll belum mati.
Merekalah
orang-orang lawas yang masih berkibar setelah Metallica dan band
lainnya tergerus oleh dentum elektronika dari grup-grup metal yang
memakai jasa Disk Jockey (DJ). Sayangnya, momen tersebut tidak
dimanfaatkan oleh Scott Weiland dan kawan-kawan. Perjalanan tur yang
padat tiba-tiba ’rusak’ oleh jadwal rehabilitasi narkotika Scott
Weiland yang membuat beberapa tur harus dibatalkan. Walaupun manajemen
telah meminta maaf, fans jelas kecewa.
Selentingan
jelek mulai terdengar, bahwa band akan bubar karena adanya konflik
internal antara eks Gn’R versus Scott Weiland. Apalagi tersiar kabar
bahwa Scott akan mengadakan konser reuni dengan STP. Slash yang
ditanyakan tentang hal itu menjawab dengan enteng, ”Benar, Scott memang
akan menjalani tur reuni dengan STP setelah rangkaian tur VR selesai”.
Walaupun Slash nampak tidak ’cemburu’ dengan tur reuni tersebut, namun
media tetap mencium adanya aroma perpecahan di tubuh VR, walaupun
disanggah dengan keras oleh Slash dan Duff.
Kehadiran
VR di acara seremoni untuk Van Halen seakan menampik tuduhan
disharmonisasi di tubuh band. Media pun mulai tenang sebelum terjadi
kekacauan pada konser VR di Glasgow, Skotlandia. Ditengah-tengah show,
saat penonton sedang berada di puncak adrenalin karena gempuran
lagu-lagu VR, tiba-tiba saja Scott mengeluarkan statement
kontroversial.
”Konser
ini spesial,” katanya, ”Kalian beruntung hadir disini, karena ini
adalah penampilan terakhir VR” Tentu saja penonton kaget. Bukan hanya
penonton, personel VR dan seluruh awak tim terperangah atas statement
spontan tersebut. VR tetap melanjutkan konser hingga selesai, dan media
menunggu di Conference Room dengan pertanyaan yang sudah dapat
ditebak. Slash menjawab bahwa hari itu bukan konser terakhir VR, namun
statement Matt Sorum di tempat lain membuka mata dunia bahwa VR memang
sedang kritis.
Matt
membenarkan adanya konflik di dalam band. Ia juga mengkritik sikap
Scott Weiland di Glasgow. Perseteruan melalui media makin meruncing
dengan balasan dari Scott bahwa dirinya sudah berusaha menjalin
pertemanan dengan personel lain, namun teman-temannya terlalu egois. Ia
justru tidak sabar untuk berkumpul dengan teman-teman lamanya untuk
reuni STP. Setelah kejadian itu, VR seperti menghilang dari peredaran.
Slash
beberapa kali muncul di media dengan pernyataan bahwa VR sedang
berkonsentrasi mengerjakan materi album ketiga. Namun pada tanggal 1
April 2008, muncul statement resmi dari kubu VR. Bukan tentang tanggal
launching album ketiga mereka, namun pernyataan bahwa Scott Weiland
resmi dikeluarkan dari band. Ternyata konser VR di Glasgow bukan yang
terakhir bagi VR, namun bagi Scott Weiland.download lagu velvet revolver klik disini